Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 09, 2012

Kisah lama

dan aku harus pergi....
sekali lagi akan pergi
meninggalkan mu....

mungkin ini yang terbaik...
saat kau tahu hidup tak seindah kenyataan
aku berharap hujan akan menghapus jejak ku
aku mengerti cinta tak selamanya bersama

kau ibarat mimpi mimpi ku
di siang yang terik mentari
di malam yang penuh kabut
kabut perbedaan yang semakin kelam

aku berharap
suatu saat
entah kapan pun
ku ingin engkau
tak akan
dan tak mungkin akan
menggapai angan angan ku...

Kamis, Juli 19, 2012

Aku dan Kau


hari ini aku menunggu....
menunggu kau tuangkan kopi itu kedalam gelasku...
menunggu kau suguhkan sarapan pagi di meja makan ku
menunggu kau pasangkan dasi ke kerah baju ku....

hari ini aku menanti....
menanti kau temani hari - hari ku
menanti dia menjalani waktu hidup ku
menanti kau menapakai jalan berdebu

Kadang aku takut...
takut kau takkan kembali lagi
takut kau tak mau menyuguhkan senyum manismu
takut kau tak kan datang hari ini

Tapi aku yakin...
kau selalu bersama ku
disetiap hembusan napas ku
disetiap araoma wangi tubuhmu......

Senin, Juli 04, 2011

Kalut

waktu berjalan ganti berlalu
mimpi yang layu pergi yang sendu
kadang hampiri lirih disini
membawa luka kalut berhenti

ini hari tak kunjung sua
kisah mesra satukan kita
aku tak tau engkau siapa
menyapa ragu rindu yang satu

adakah cerita sampai disini
mencoba luruh bunga ku rangkai
tak pernah rasa indahnya cinta
tak pernah rasa rindu pesona
adakah untukku dihari esok

Jumat, April 29, 2011

Tadi Pagi

sendiri....
menanti hujan berhenti
kala datang dingin selimuti mimpi
kau tak di sini....

ku rangkaikan gubahan wangi
yang selalu temani mu lalui hari
hari mati yang tak bertepi
aku di sini
menanti waktu tak pasti
pecahkan matahari
lukai mata hati
warna bumi ini
ku tak mengerti
saat kau katakan ini
aku takut gerimis tak berhenti
temani mu mencari sekeping nurani
yang hilang di curi tadi pagi......



Minggu, Agustus 15, 2010

TENTANG KENYATAAN


AKU LAHIR KEMARIN SIANG
KETIKA BUMI MERETAK MENGANGA
AKU TERBELALAK DI ANTARA KABUT PUTIH KELABU
NAPAS PERTAMA YANG MENYESAKKAN

IBU MEMBERIKU NAMA KENYATAAN
SEPERTI YANG TENGAH DIALAMINYA
AKU ADA TANPA BAPAK
ATAU ENTAH SIAPA TEPATNYA

AKU LAHIR KEMARIN SIANG
DI ANTARA BANYAK PERISTIWA MEREBAK DI UDARA
SAAT KU TANYAKAN PADA IBI, DIA HANYA MENGGELENG
“ JANGAN BICARA KERAS – KERAS, KAMU BUKAN PENGUASA”
AKU MENANGIS MELENGKING MENGHUJAT SEKITAR

IBU MEMBUJUKKU DENGAN KATA
“ BERCERMINLAH PADA KENYATAAN DAN KEBENARAN
DENGAN BEGITU HIDUPMU JADI BERARTI”

Senin, Juli 19, 2010

TAWA LARA

kadang harus menangis sendiri
menyapa hati garis memilih
kadang ada tawa yang lalu
menyapa indah di hari kemarin

kawan datang silih berganti
menuai mimpi waktu kemarin
entah gimana rasa bersalah
mencari arti hidup tak patah

kadang lara engkau torehkan
membuat luka indah setaman
waktu mencari engkau tak ada
menuai putih hidup yang perih

Minggu, Februari 21, 2010

Halaman tentang Guru

Lentera III
(Goresan buat Guru)

Mengenal mu adalah anugrah
Aku malam sepi memerah
Sedangkan kau sering selimuti aku
Dengan secercah kekaguman yang terbaik

Kadang aku hanya bias membisu
Meranggas jatuh jiwa yang pilu
Menatapmu seperti sesuatu yang hilang, kembali ada
Kembali datang merambah lembut

Hatimu merah jingga
Kadang aku ikut terbawa ke sana
Menemanimu walau hanya menyeduh secangkir kopi
Secangkir kopi kesukaan mu

Kau seperti beringin yang kokoh berdiri
Walau rapuh kadang menikam mu
Juga taring tajam menggores riakmu
Tapi aura mu begitu kuat
Temukan aku di balik cahaya

Kota Ketiga, 19 Februari 2009

Rabu, Februari 10, 2010

puisi

LENTERA II

Di sini berdiri
Mengusung malam bintang sembunyi
Menghitung detik demi detik
Waktu berlalu
Semburat hitam menggenggam malam
Adakah seperti itu

Dulu warnamu seputih kaca
Membuat kita sering bertanya
Tentang teka teki
Yang kadang kita lantunkan di sana
Merambah lembut gurat rinaimu
Pada pelangi
Pada pagi hari
Pada rintik hujan
Yang jatuh basahi rambut hitam itu

Sekarang…….
Kita menjemput mimpi yang lain
Yang lebih indah dari kemarin
Walau badai sering menghadap
Apakah kita masih tegar
Seperti karang
Diterpa gelombang
Gelombang kemunafikan

Kota Ketiga, 09 Februari 2010

Puisi


LENTERA I

Jika mentari tersenyum mesra
Tak ada lara maupun duka
Di hati paduka
Wajahmu penuh wibawa
Terarah penuh pesona
Kau lakonkan hidup penuh mulia
Sepertinya kau tak berdoasa
Adakah itu bukti sebuah jasa
Yang kau berikan pada nusa
Ataukah hanya sandiwara belaka
Atau juga lakonan opera
Tidak, tidak itu tidak ada
Engkau seorang yang bijaksana
Terus, terus laksanakan tugas yang terlena
Aku tau engkau setia
Pada kita semua

Kota Ketiga, 14 Januari 2010

Minggu, Februari 07, 2010

JINGGA

Jingga I

Mengenal dan memilikimu adalah anugerah
Aku malam sepi meranggas
dan kau selalu temani aku
Kadang berbilur rupa sering juga gemerisik suara

Hatimu warna kaca
Aku begitu sering ikut menanggis di dalamnya
Selalu ada yang membuatmu terluka
Karena tatap yang berlomba
menusukkan belati pada rapuhmu
juga lisan bertaring tajam yang memamah kekuatanmu

kau jadi begitu penakut, Jingga
bahkan untuk sekedar menatap lurus ke depan
semenjak kau miliki dia
ya.
Lelaki itu

Jingga II

Dulu Kau adalah karang
Tak oleng meski cercah dan puji memukulimu
Sering hujan panas mengumulimu
Kau tetap karang
Karang yang indah
Senja mana pula yang tak jatuh hati padamu ,Jingga
Bahkan dia
Ya.
Lelaki itu

Kau jadi keping berserakan
Ketika lelaki itu meminangmu menjadi istrinya
Kalian begitu sempurna

Jingga III

Kau lari menjauh
Tak ingin ada senja yang salah mencintaimu
Kadang kau sembunyi di tirai malam
Pernah menyamar jadi siang yang garang
Tapi kau tetap Jingga

Dan dia selalu dapat menemuimu

Kau lelah berlari
Kini kau jadi sering bercumbu pada rasa bersalah

Cinta memang luar biasa, Jingga
Bukan kau yang menanam tanggis
Kau hanya menuainya

Jumat, Desember 11, 2009

SEKILAS

Jatuh terurai embun yang basah
Mengalir lembut di ujung salah
Membalut tulus waktu berdarah
Membagi nikmat mimpi yang merah
Dalam sebuah anugrah
Yang semakin bernanah

Hati yang kalut jangan terlukis
Menikam perih jiwa menapis
Torehkan sulit kadang menangis
Goreskan sepi buat meringis
Walau ini terasa sadis
Tapi tak apa semua apatis
Pada hari yang tak bergaris

Kadang setitik detik dipunya
Ingin dirangkai menjadi bunga
Walau pun orang selalu menghina
Tapi api tetap menyala
Terangi malam hangatkan jiwa
Temani kami warnai rasa
Rasa sulit yang kadang ada

Subulussalam, 11 Desember 2009, 06.52 WIB

Rabu, Desember 09, 2009

KU TAK MENGERTI

Aku sembunyi di balik matahari
Agar tak terlihat dari yang mencari
Yang datang tadi pagi

Masih ku ingat kenangan kita dulu
Waktu mentari di atas kepala
Kau berkata seribu bahasa
Yang membuatku tak berdaya
Dalam satu cerita

Ku masih sempat menoleh mu
Kau juga menatapku penuh arti
Tapi ku tak tau pikiran mu
Walau masih ku ingat apa yang kau katakan
Arti sebuah penghargaan
Arti sebuah ketulusan
Tapi ku tak mengerti


Subulussalam, 9 Desember 2009

Sabtu, Desember 05, 2009

Puisi Desember

RESOLUSI KEHIDUPAN

Tuhan ku…….
Salahkah aku ini…..
Dengan langkah yang hilang tak nyata
Dengan ragu yang hilang percuma
Ku tak bisa

Kadang ku tersenyum antara tangisku
Kadang ku menari antara sepiku
Kadang semua berbeda
Kadang semua tak sama

Tuhan…..
Inikah kehidupan
Yang kau gariskan untuk ku
Dengan beribu tanda tanya
Dengan berjuta kerapuhan
Dengan setitik kebahagian…

Tuhan….
Bukan kah ini sebuah mimpi saja
Yang harus hilang di kala fajar
Yang harus lenyap di kali pagi
Ku tak mau…
Ku ingin seperti ini saja…..

Tuhan….
Haruskah aku melangkah lebih jauh
Tinggalkan mimpi yang terlalu sepi
Tinggalkan angan yang terlalu tinggi
Tinggalkan kisah yang terlalu mati
Maafkan jika aku terlalu bijak…..

Subulussalam, 05 desember 2009, 23.16 WIB

Rabu, November 25, 2009

Bukan Aku

Mungin ini bukan waktu ku
untuk merangkai makna dari nurani
menuai indah di hari yang pagi
terlalu pagi....

Kadang hati salah memilih
kadang nurani salah mencoba
kadang semua salah memberi
tak apalah hari tak salah

ku merasa mimpi tak salah
memilih lain, arti yang merah
mencari makna, kata yang lumrah
biarlah semua tak masalah...

kadang hati bertanya
mengapa bukan aku???
mengapa dia yang kau pilih
menjadi raja di hatimu
menjadi bunga di mimpi indah mu...
oh....salahkah bila aku bertanya

Subulussalam, 25 November 2009

Jumat, November 20, 2009

ANOMALI

Jauh ku melangkah
Meniti hari - hari
Yang semakin menepi
Mati......
Itu pasti
Yang terjadi
Pada setiap insani....

Kamis, Oktober 29, 2009

PUISI 3


LIMIT KEINDAHAN

Kini indah telah pun usai
Hanya ada mimpi – mimpi ngeri
Menghantui setiap sudut hati
Membiaskan semua sudut nurani

Dulu cinta telah bersemi
Dulu kita telah berbakti
Dulu aku telah memberi
Dulu dia telah ku beri
Tapi mengapa ini terjadi
Kisah ku yang indah telah kau curi
Dari sebuah memori hati

Oh ………………inikah hidup
Yang lama t’lah berlalu
Yang lama t’lah berliku
Walau kita sudah lama bertemu
Tapi mengapa t’rus begitu
Membiarkan jeritan yatim piatu
Diantara indahnya seorang ratu
Adakah kau dengar itu…..
Oh……….teman ku

Selasa, Oktober 27, 2009

PUISI 2

MENANTI SEKUNTUM MELATI

Sendiri
Menanti sekuntum melati
Yang putih berseri
Di pagi hari

Sedang siang sudah menjelang
Matahari sudah bertualang
Di balik batu – batu yang bertalang
Mencari satu atau dua orang
Yang bernasib malang

Kesini….
Menangis sendiri
Meratapi diri
Karna indah telah bertepi
Kini
Aku yang menanti
Sebuah rangkaian melati
Di pagi hari

Buat : Budak kaca mata

PUISI

SENJA DI KAKI LANGIT

Pada kala langit berpijar surya memancar
Kelepak camar melayang jauh ke laut
Tiang rapat bersusun terus berpaut
Menghembus desiran angin mengalun sendu

Kini ku sendiri
Berjalan menyusuri tepian hari
Membuka dan menutup lembaran hidup
Berjumpa dan berpisah dengan kisah
Terikat dan terlerai dengan hasrat

Senja mulai redup cakrawala bermanja
Hari mulai terlelap cahaya pelita mulai ada
Gedung megah bertatap rembulan melihat
Dari perjalanan yang terus saja
Sampai waktunya kembali pada-Nya

Rabu, Oktober 21, 2009

Puisi


DONGENG DUKA

Setetes embun jatuh
Menuai putih penuh keluh
Merangkak sedikit di ujung rapuh
Antara tawa dan riuh peluh
Di rambah cakrawala

Bening ucapkan rasa
Ada lara menyibak duka
Ada pilu merangkai luka
Ach……….. inikah cerita lama
Atau dongengan kita
Pengantar tidur ke alam maya

Kadang rasa membuat duka
Menentang semua rasa di dada
Ada hati yang tak setia
Seolah mengolok cerita mereka
Yang berdongeng untuk para hamba

Inikah rasa setia
Yang dulu kau pinta – pinta
Dengan sekuntum melati bunga
Ach rupanya sandiwara

Rabu, September 09, 2009

puisi

P A D A

Berlari menuju tempat sunyi
Di sini menanti hari mati
Satu
Dua
Kita berdansa
Sedangkan hati masih terpanah
Di  mana gerbang keluar
Di tuju......
Di tempuh

Di sana nanti kita bertanya
pada ayah anda
Pada guru kita
Pada siapa saja yang kita jumpa


DOA BUAT SAHABAT

Di balik derai - derai pohon cemara
Ku tatap kau tersenyum mesra
Dari gurisan wajaw mu yang semakin tua
Menggambarkan hati mu yang mulia
Di waktu kita masih bersama

Tapi kini waktu berbeda
Kau yang dulu sering bercerita
Tentang dunia yang penuh tanda tanya
Tentang kehidupan yang penuh sandiwara

Tapi kita terpisah oleh dosa
Kau memilih pergi ke neraka
Dan aku memilih pergi ke syurga
Apakah ini hidup kita???
Yang dulu pernah kita cita - citakan bersama
Di saat kita masih remaja
Belum mengenal arti dunia
Belum mengenal arti indahnya harta
Belum mengenal manisnya cinta

Oh .......Sahabat ku
Maafkan aku
Karena tak bisa menolong mu
Ku doakan moga kau kembali seperti dulu......